ACEH – Konon katanya di perbatasan Aceh Barat dengan Aceh Selatan, dalam suatu kerajaan yang bernama kerajaan Kuala Batee terjadi suatu kisah sedih yakni seorang Ibu yang menyesali maut anaknya yang di aturan mati oleh raja lantaran di fitnah telah berbuat zina/khalwat, legenda ini menjadi awal mula terciptanya tari Pho.
Tarian ini dibawakan oleh para wanita, lampau biasanya dilakukan pada maut orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih lantaran ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis.
Menurut Salah soerang pemerhati Seni, Sahal Tastari, seni pertunjukan tari pho telah ada sejak dahulu, namun pastinya belum diketahui secara pasti. Seni pertunjukan ini diperkirakan berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada sekitar awal abad ke-20 jika menilik dari lirik yang ada pada saat Tum Beude yang menyebutkan tentang kewafatan pahlawan nasioanl Teuku Umar.
“Tarian ini sudah dikenal ketika belanda memasuki awal abad ke-20 dan kemudian berhasil menduduki daerah ini sejak tahun 1890-an hingga tahun 1942 dalam rangka mengejar pasukan muslimin Aceh hingga masuknya Jepang ke sana,” katanya.
Tarian tersebut dimainkan oleh gadis-gadis dengan membuat lingkaran ataupun baris berbanjar sambil berdiri.
“Tari Pho ditarikan oleh wanita dan diiringi oleh syair-syair yang dilantunkan oleh seorang syahi,” sebutnya.
Kendati demikian, Sahal meneyebutkan, bahwa seiring dengan perkembangannya tarian ini, telah mengalami perubahan bentuk menjadi versi penampilan di panggung yang diciptakan oleh Drs. Ichsan Ibrahim.
“Biasanya ditampilkan pada acara perkawinan dan khitanan dengan maksud menghibur penonton dan tuan rumah, pertunjukan tari pho saat ini sering ditemui pada saat acara perkawinan yang disebut manoe pucuk,” sebutnya.
Meski demikian, berdasarkan latar belakang tari Pho ini, bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat Aceh, yaitu masyarakat agraris, dimana dalam tarian ini tampak dengan jelas gerakan-gerakan simbolis dalam mengolah sawah ladang.
“Oo bineu loen balek laen, menggambarkan bahwa tanah itu harus sering sekali dibajak dan disikat,” pungkasnya.
Pesatnya perkembangan tarian Pho ini terutama sejak berkembangnya dan meningkatnya kegiatan-kegiatan kaum ibu di Aceh yang disponsori oleh “Putri Phang” istri Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Di dalam lagu Pho juga disebut Putri Phang atau sering disebut Putroe Phang.
Oleh sebab itu, perkembangan tari pho secara fungsinya di Aceh Barat berubah menjadi penghantar nasihat yang sangat sering ditampilkan pada acara manoe pucuk atau memandikan pengantin yang berisi nasihat seorang ibu dan keluarganya untuk anaknya yang akan menikah.
Fungsi dan Makna Tari Pho
Perkataan Pho berasal dari kata peuba-e po, peuba- rakyat/hamba kepada Yang Maha Kuasa (yang memiliki) misalnya Po Teu Allah, Po Teumeureuhom, Teuku Po, Ureung Po dan lain-lain.
Kata “Pho” dalam bahasa Aceh adalah sebagai suatu sebutan untuk panggilan kehormatan dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kata ini diasumsikan dengan kata sifat lainnya, seperti “Pho Teu Allah”, “Allah Hai Po”, “Ee Po”, sebagai sebutan untuk menghormati Allah SWT yang memiliki segala makhluknya.
Selain itu juga, kata “Po Teu Meureuhom” sebagai sebutan untuk menghormati sultan-sultan yang sudah mangkat. Sebutan lainnya seperti “Teuku Po” digunakan sebagai sebutan untuk menghormati golongan bangsawan/uleebalang, “Ureung Po Rumoh” sebagai sebutan untuk menghormati istri yang dianggap sebagai pemilik atau pewaris dari rumah didalam pemahaman kebudayaan dan sejarah di Aceh. Sedangkan sebagai wujud seni tradisi pertunjukan tari pho dapat dilakukan beriringan antara tarian sekaligus nyanyian yang berisi syair-syair tragedi.
Berdasarkan latar belakang tari Pho ini, bahwa tarian ini merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat Aceh, yaitu masyarakat agraris, dimana dalam tarian ini tampak dengan jelas gerakan-gerakan simbolis dalam mengolah sawah ladang.
Gerakan para penari menghentakkan kaki ke lantai berarti bahwa tanah yang telah dibajak harus diinjak-injak supaya rata. Kata “Oo bineu loen balek laen” menggambarkan bahwa tanah itu harus sering sekali dibajak dan disikat.
Tepuk tangan adalah simbolis mengusir burung dan mengetam atau mengumpulkan ikatan-ikatan padi yang telah diketam. Pesatnya perkembangan tarian Pho ini terutama sejak berkembangnya dan meningkatnya kegiatan-kegiatan kaum ibu di Aceh yang disponsori oleh “Putri Phang” istri Raja Aceh Sultan Iskandar Muda. Di dalam lagu Pho juga disebut “Putri” Phang atau “Putroe Phang.
Sejarah Tari Pho
Menurut beberapa sumber, seni pertunjukan Tari Pho telah ada sejak dahulu, namun pastinya belum diketahui secara pasti. Seni pertunjukan ini diperkirakan berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada sekitar awal abad ke-20 jika menilik dari lirik yang ada pada saat Tum Beude yang menyebutkan tentang kewafatan pahlawan nasioanl Teuku Umar. Tarian ini sudah dikenal ketika belanda memasuki awal abad ke-20 dan kemudian berhasil menduduki daerah ini sejak tahun 1890-an hingga tahun 1942 dalam rangka mengejar pasukan muslimin Aceh hingga masuknya Jepang ke sana.
Suatu Ketika di Blang Pidie, Aceh Selatan. Si Malelang punya adik sepupu perempuan yang ibu dan ayahnya telah meninggal. Gadis itu dijodohkan dengan si Malelang. Untuk persiapan perayaan perkawinan buah hatinya, sejaka si Malelang kecil, sang ibu sudah menanam pinang, sirih, dan inai.
Namun, saat tumbuh dewasa, adik sepupu si Malelang berwajah cantik sehingga ada seorang pemuda di sana yang amat sangat suka padanya.
Ketika hari perkawinan yang direncanakan mendekat, ibu si Malelang ingin mengundang tetangga, kerabat, pembesar kampung dan warganya. Sebagai mana adat di bagian Barat dan Selatan Aceh, mengundang orang untuk menghadiri kenduri harus dengan sirih yang tersusun rapi berserta kapur dan pinang di dalam puan.
Ibu minta si Malelang panjang pinang, setiap dipetik dijatuhkannya. Si adik sepupu datang mencari calon suaminya. Begitu ia tahu Malelang di kebun pinang, maka ia mencari ke kebun yang dimaksud. Namun, dalam perjalanan, di tebing terjal, gadais itu terjatuh dan terkena duri di pangkal pahanya sampai berdarah.
Saat itu, anak muda yang amat sangat suka pada dia, melihat kejadian itu, lalu si pemuda berlarian ke kampung dan menyampaikan fitnah kepada hulu balang kampung dan rakyat, bahwa si Malelang telah memperkosa si gadis, dengan bukti ada darah di pahanya.
Walhasil, si Malelang dan tunangannya dijatuhi hukum pancung oleh hulu balang. Saat hendak dihukum, datanglah ibu si Malelang, ia meratap sehingga mirip sebuah nyanyian yang bersajak. Si ibu minta kepada hulu balang supaya mengizinkan keduanya menikah dan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam sebagaimana direncanakan lagi pula ia sudah mengundang orang-orang. Hulu balang memenuhi permintaan tersebut.
Si Malelang minta ibunya membuat sambal daun encek gondok yang dalam bahasa di sana disebut bungong crot atau bungong yoh.
Beginilah ratapan ibu si Malelang yang malang:
“O bineuk sinyak dong di rot, kapot bungong crot pasoe lam ija, juloh juloh ie mon blang pidie, tujoh pucok jok keu taloe tima, O bineuk lon balek laen, puteh licen seuot beurata, Halo halo hai di kutidi, hai kumbang dodi oi kumbang dodi”
Ibu si Malelang ini meratap seraya menari-nari, para ibu lain yang melihatnya pun ikut hanyut dalam maha duka temannya, mereka ikut meratap dengan syair tersebut dan ikut menari bersama ibu si Malelang. Lama kelamaan gerakan mereka teratur mirip sebuah tarian.
Setelah si Malelang dan sepupunya menikah dan mengadakan pesta 7 hari tujuh malam, mereka dihukum. Setelahnya, ratapan dan gerakan ibu si Malelang bersama para ibu-ibu yang lain diulangi ketika mereka ingat kemalangan yang menimpa si Malelang dan kekasihnya. Lambat laun, syair dan gerakan itu menjadi tarian.
Pada masa penciptaannya zaman dulu tarian Pho ini dipengaruhi oleh budaya pra-islam. Setelah islam berkembang dan mula dipahami dengan baik oleh masyarakat di Aceh Barat masa itu, tari ini sudah tidak dipertunjukkan dan dipertahankan sebagai pertunjukan ritual kematian lagi karena dalam islam tidak membenarkan untuk meratapi sampai meraung-raung orang yang sudah meninggal, karena kematian adalah Sunnatullah sehingga dibutuhkan kesabaran setiap orang untuk menghadapi musibah yang menimpa diri dan keluarga serta kerabat dekat lainnya. Oleh sebab itulah maka kemudian tarian ini hanya berfungsi sebagai pertunjukan hiburan semata. Sehingga saat ini seiring perkembangannya Tari Pho bisa ditampilkan pada acara perkawinan, bersuka ria, memandikan pengantin, sunat rasul, turun mandi, melepas hajat dan penyambutan pembesar-pembesar serta pada waktu padi diserang hama penyakit.
Tari pho secara fungsinya di Aceh Barat berubah menjadi penghantar nasihat yang sangat sering ditampilkan pada acara manoe pucuk atau memandikan pengantin yang berisi nasihat seorang ibu dan keluarganya untuk anaknya yang akan menikah. (ADV / Disbudpar Aceh)